September 20, 2020
Sejarah & Perkembangan Bisnis Pulsa di Indonesia

Sejarah & Perkembangan Bisnis Pulsa di Indonesia

Aktivitas jual pulsa sudah seperti jualan beras. Setiap orang yang memiliki handphone atau HP tentu butuh dan beli pulsa. Dahulu wartel jadi salah satu lokasi pelayanan telekomunikasi publik yang banyak hadir di pinggir jalan. Pemilik wartel juga bergabung dalam Asosiasi Pengusaha Wartel Indonesia atau APWI yang berdiri pada 8 Januari 1992. Entah, bagaimana APWI ini setelah wartel tergerus oleh perkembangan zaman.  Masih ingat saat telpon-telponan di wartel yang menghabiskan uang Rp 1.500. Namun tiba-tiba banyak wartel tutup usaha. Dahulu jika Anda menerima telepon saja dikenakan biaya, apalagi melakukan panggilan keluar.

Cara postpaid atau pakai dulu baru bayar belakangan sudah diterapkan pada awal berdirinya Telkomsel pada tahun 1995. Tidak lama, setahun setelahnya muncul provider bernama ProXL. Mulailah tampak persaingan yang berlomba mengambil market share dari Telkomsel. Baru pada tahun 1997 kartu prabayar dihadirkan oleh Telkomsel sebagai terobosan. Isi ulang juga dilakukan dengan pembelian voucher gosok. Sejumlah dealer juga akhirnya ditunjuk untuk menyalurkan produk ini. Ini adalah titik yang jadi awal mula munculnya outlet-outlet jual pulsa.

Operator lain yaitu Indosat juga mencoba melihat potensi bisnis seluler ini. Di tahun 2001 hadir Mentari produk melalui anak perusahaan PT Indosat Multi Media Mobile. Isi ulang mentari memakai Short Code yang penyalurannya melalui sejumlah dealer. Tidak lama, Telkomsel meluncurkan Autorefill atau B2B berwujud EDC atau Electronic Data Capture yang khusus isi ulang saldo Simpati, tepatnya di bulan Maret 2002. Ini membuat pengisian pulsa tanpa menggunakan kode gosok dan pastinya mempermudah pembeli.

M-KIOS juga lahir pada bulan Juni 2004 untuk tambah mempermudah outlet untuk melayani pengisian ulang prabayar pelanggan telkomsel di semua wilayah. Sejumlah sumber mengatakan ada setidaknya 10 juta pelanggan yang dimiliki Telkomsel ketika itu. Pada perkembangannya semua dealer memiliki sub-sub dealer untuk menyalurkan lagi produk seluler. Spanduk, voucher fisik dan lain sebagainya jadi perlengkapan umum untuk sub-sub dealer.

Seiring perkembangan, jumlah pemakai telepon seluler tambah banyak dan kondisi sub-sub dealer kurang diuntungkan sebab porsi mereka yang sangat terbatas. Oleh sebab itu, sub dealer ini akhirnya menjual produk dari banyak operator yang dikenal sekarang ini dengan konter atau kios pulsa. Konter-konter ini juga banyak membuka toko di pinggir jalan. Sebab setiap konter bisa menjual produk dari banyak operator, ini tambah memudahkan pembeli. Bahkan, kenyataannya operator diuntungkan melalui adanya mekanisme penyaluran seperti ini.

Asal kata pulsa, masih jadi perdebatan. Belum ada sumber terpercaya yang menjelaskan tentang sejarah nama pulsa. Pada bahasa inggris, telepon prabayar dikenal dengan “pay as you talk”, “pay as you go”, pay and go, prepay atau prepaid wireless. Istilah-istilah ini berkaitan pada telepon prabayar. Sementara pulsa diketahui dengan istilah “credit”. Di Malaysia juga menggunakan istilah “credit”, entah dari mana mulanya di Indonesia dikenal dengan “Pulsa’”. Tidak mengapa dan tidak jadi masalah, yang penting semua telah mengenal istilah ini. Lagipula, bila dinamai kredit dikhawatirkan justru merujuk pada hutang piutang.

Pulsa pada dasarnya sama dengan saldo yang dapat dibuat oleh perusahaan telekomunikasi tertentu. Dapat dikatakan juga untuk alat pembayaran virtual agar dapat jasa telekomunikasi. Sederhananya, cuma sebuah formalitas berupa angka untuk menunjukkan jumlah layanan yang dapat dipakai oleh konsumen. Pada era digital sekarang ini, peran pulsa sangat besar. Mulai dari telpon, SMS, atau ditukarkan dengan paket data internet. Semua orang saat ini memakai handphone atau smartphone. Sehingga, target pasar sangat luas. Bisnis pulsa ini juga tidak pernah mati sebab pulsa adalah kebutuhan utama untuk setiap orang dalam berkomunikasi bahkan berbisnis. Agar agen pulsa dapat memeroleh keuntungan yang besar, sebenarnya tidak harus mematok harga tinggi. Melainkan memberikan harga lebih rendah dari agen lain. Pulsa merupakan kebutuhan semua orang, sehingga, setiap waktu ada yang membelinya.

Lebih baik sebagai agen memprioritaskan keuntungan dari kuantitas penjualan daripada besarnya keuntungan pada setiap transaksi. Harga yang terlalu mahal sering membuat pembeli merasa kapok. Oleh sebab itu, lakukan survey harga pada daerah dimana agen melakukan bisnis ini. Agen bisa mengikuti harga pasar atau menerapkan harga lebih murah supaya pelanggan jadi lebih loyal. Tentunya teknologi informasti ini harus digunakan dengan bijak. Terutama untuk anak-anak dan remaja.

Pengawasan dan peran orang tua menjadi hal yang sangat penting. Banyak anak-anak dan remaja yang salah dalam memanfaatkan teknologi informasi ini justru karena kurangnya pengawasan dari orang tua. Dengan pengawasan dan bijak dalam penggunaan,sangat banyak hal positif yang bisa diraih dari berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi. Marilah jadi pengguna teknologi yang cerdasn dan bijak.

shares